Mengajarkan Kecerdasan Finansial pada Anak


๐Ÿ“•Tema: kecerdasan finansial untuk anak

๐Ÿ‘จ​​​๐Ÿ‘จ​​​๐Ÿ‘จ​​​๐ŸซNarasumber: Husnul Khatimah Umar, S.Psi

๐Ÿ—“Waktu: 13.30 - 15.30 WITA

๐ŸŽ™ moderator : mama syerra
๐Ÿ“ notulen : mama yosi

CURRICULUM VITAE NARASUMBER KULIAH WHATSAPP LEARNING MAMA

✨ Nama lengkap : Husnul Khatimah Umar, S.Psi

✨ Status keluarga : Menikah, 1 putra

✨ Domisili : Samarinda, KalTim, Indonesia

✨ FB / IG / WEBSITE: Husnul Khatimah Umar

✨ Riwayat pendidikan/pengalaman:
SD Muhammadiyah 2 smd lulus 96
SMP Negeri 1 smd lulus 99
SMA Negeri 1 smd lulus 02
Universitas Muhammadiyah Malang,  Fak. Psikologi, Jur. Psikologi,  Konsentrasi Psikologi Pendidikan & Perkembangan, lulus 08

✨ Aktivitas saat ini:
Ibu Rumah Tangga merangkap Konselor di SMP IT Cordova smd dan SMA IT Granada smd serta mengajar di PGMI STIS Al Azhar smd

✨ Preferensi Bidang Bahasan Kulwap yang disampaikan:
(Beri tanda Ceklis pada bidangnya ✅)
  ◽Kehamilan
  ◽ ASI
  ◽ MPASI
 ✅ Parenting
 ✅ Psikologi Anak
 ✅Pendidikan
  ◽Kesehatan keluarga
  ◽Keuangan keluarga
  ◽ Harmonisasi Pasutri
  ◽Home & Kitchen

                           ๐ŸŽถ SELAYANG PANDANG๐ŸŽถ
Masa kecil anak2 kita adalah masa persiapan untuk masa depan mereka. Salah satu hal yg perlu kita persiapkan adalah pengembangan kecerdasan finansial.
Kecerdasan finansial adalah kemampuan untuk mengelola harta / sumber daya yg dimiliki individu secara baik dan benar.
Selain itu perkembangan kecerdasan finansial juga berkaitan dengan sisi kehidupan yg lain, terutama dalam hal pekerjaan serta aktivitas logistik pribadi dan rumah tangga.
Apapun profesi anak2 kita kelak maka pasti akan brhubungan dngan kemampuan ini, bahkan meskipun anak2 kita kelak mampu membayar akuntan atau perencana keuangan profesional, kemampuan ini tetap diperlukan, minimal dalam mengambil keputusan keuangan (membayar tagihan, membeli sesuatu, investasi, hutang/kredit, dll)
Apalagi di zaman sekarang,  dimana anak2 kita hidup didunia serbal digital, iklan menarik bersebaran dengan mudahnya. Sekali klik bisa beli ini itu dengan dompet digital, rekening atau COD. Begitu pula dengan kemudahan tawaran kredit, investasi, dll.
Nah..
Seperti skills atau kemampuan yg lain, maka kemampuan ini butuh latihan dan pembiasaan sejak dini.
Nah bagaimana memulainya ?
Ada bbrpa hal yg perlu kita perhatikan dalam pengembangan kemampuan ini, yaitu :
๐Ÿ’ฑ Penanaman aqidah/mindset iman, bahwa sumber rizki kita satu2nya dr Allah dengan segala ketetapanNya.
Ini sangat penting dan menjadi dasar untuk pengelolaan finansial kita.
 ๐Ÿ’ฑ Penanaman Mindset tntang Uang dan Harta, bahwa uang dan harta bukan tujuan kita tapi hanya sarana.
๐Ÿ’ฑ Penanaman Mindset tntang kemandirian ( salah satu persiapan mnjelang baligh/usia dewasa)
Ketika anak laki2  kita telah baligh/dewasa maka orang tuanya tidak wajib menafkahinya, adapun uang saku, fasilitas yg dibrikan ortu pda saat mreka baligh/dewasa itu adalah infak shadaqah dan curahan kasih sayang dr ortu untuk anaknya.
Karna itu seharusnya ketika anak laki2 kita telah baligh / dewasa maka idealnya telah trbentuk mindset harga diri kemandirian sekaligus telah brkembng kecerdsan finansialnya minimal pengelolaan uang saku/aset yg dimilikinya.
Tapi bukan berarti hanya anak laki2 saja, anak2 perempuan pun penting disiapkan krna kita tidak tahu apakah kita bisa terus ada untuk mereka, bukankah maut bisa datang kpan saja?
Maka ketika mereka dewasa hrapannya mreka sudah siap untuk mngelola finansialnya.
Selain itu juga persiapan anak2 kita kelak ketika memasuki gerbang rumah tangga.                     
๐Ÿ’ฑ Latihan Pengelolaan Finansial, meliputi :
1. Sesuaikan dengan tahapan usia
2. Pengelolaan Pemasukan
3. Pengelolaan Pengeluaran
4. Pengelolaan Investasi
5. Financial Plan (Membangun Bisnis dan Rencana keuangan masa depan)
6. Evaluasi Aset dan Keuangan
Sebenarnya materi ini perlu penjabaran yg agak panjang tapi untuk awalan,  mudah mudahan materi ini bisa bermanfaat untuk kita semua.
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita untuk mengelola harta dan memberkahi kita dengan keberkahan rizki..aamiin Allahumma aamiin.
Wallahu a'lam bishowab..
Wasaalamualaikum wrwb

                         ๐Ÿ’Œ TANYA JAWAB ๐Ÿ’Œ

๐Ÿ™‹ ami
Assalamualaikum bu husnul. Terimakasih sudah bersedia berbagi bersama kami. Saya ami ibunya Gamma (20mo)
Bu, bagaimana pola mengenalkan cerdas finansial untuk Anak Usia Dini? Apakah langsung kita kenalkan ttg konsep uang sebagai alat tukar? Atau seperti apa?
๐Ÿ‘‡
Wa'alaikumussalam Bunda ami..
Terimakasih atas prtanyaannya..
Baik, sebelumnya mngkin sya jelaskan dulu tahapan sesuai usia ketika kita ingin mengembangkan kcrdasan finansial anak kita.
Dlm hal ini sya bgi dlm 3 tahapan :
1. Usia dini ( 0 - 5 tahun/ masa pra sekolah)
2. Usia sekolah ( 6 - baligh / usia sd - smp)
3. Usia dewasa ( baligh / 18 tahun ke atas)
Pda usia dini..
Yg penting dikuatkan adalah pondasi atau mindsetnya dulu. Terutama mindset iman dan bahwa harta hanya sarana bukan tujuan.
Yg kedua adalah memberikan teladan tntang uang dan pengelolaannya.
Anak usia pra sekolah belajar lebih banyak dengan meniru..dan yg paling sering ditiru adalah org yg sering berinteraksi dngannya, dlm hal ini ortu.
Misalnya Klo kita rajin belanja ๐Ÿ˜… , anak kita juga gitu..krna anak kita belajar dr kita..
Yg ketiga adalah pembiasaan.
Usia dini ini sebelumnya belum faham tntang nilai uang, tapi mereka telah "diperkenalkan" uang oleh lingkungan bahkan sejak mreka bayi.. Misalnya dikasih anpao pda saat hari raya / lebaran, hadiah, dll
Maka pembiasaan / latihan belanja,  menabung, berinfak sejak dini bisa mulai dilakukan. Khususnya usia 2 - 5 tahun kalau dalam tahapan ini..
๐Ÿ™‹​ citra
Assalamu'alaykm.
Perkenalkan saya citra.
Mau bertanya bu husnul.
Sejak usia berapakah anak dapat diajarkan untuk memulai bisnis dan baiknya bisnis seperti apa yang cocok untuk anak-anak? Terima kasih.
๐Ÿ‘‡
Wa'aLaikumussalam bunda citra..
Terimakasih pertanyaannya..

Anak2 dapat mulai diajarkan berbisnis mulai usia sekolah bunda..

Setelah anak pada usia dini sudah disiapkan lewat penanaman mindset poin 1 dan 2 serta lewat pembiasaan dan teladan maka pada tahap usia yg kedua ini kita tinggal memantapkan mindset yg ketiga yaitu kemandirian.

Salah satu cara menanamkan mindset kemandirian ini adalah dengan mngajarkan anak memulai bisnisnya.
Pada usia tahap kedua ini anak sudah mulai memahami fungsi dan nilai uang krna itu juga udah bisa di ajarkan mengelola uang sakunya dngan arus kas sederhana..
Serta sudah diperkenalkan membagi uang setidaknya 3 bagian ( tabungan, sedekah dan belanja).
Bisnis apa saja yg cocok untuk anak2..
๐Ÿ‘‡
Untuk bisnis yg cocok relatif bunda..
Tergantung dr kesepakatan antara anak dan ortu.
Biasanya dipilih yg :
1.  tidak ribet dan bisa dikerjakan mandiri oleh anak,
2. sesuai dengan minat / hobi anak lebih baik krna membuat dia lebih semangat berbisnis.
3. Bisnis dan konsekuensiny disepakati oleh anak dan orang tua.
๐Ÿ™‹​ Anita
Assalamu'alaikum bu husnul ๐Ÿ˜˜
Perkenalkan saya anita,ibunya daffa (6y+)
Kecerdasan finansial sudah diterapkan oleh temanku ( anaknya perempuan )
Sejak anak menginjak bangku smp, sang bapak memberi kepercayaan padanya untuk mengelola uang saku.
Jadi tiap bulan dikasih uang jajan full untuk sebulan.
Mau habis ditengah jalan sebelum akhir bulan itu sudah resiko.
Tapi si bapak juga nggak pelit bgt dalam hal uang, jika si bapak nyuruh beli apa gitu ada uang kembalian pasti dikasih semua ( memang sengaja )
Hingga akhirnya si anak sekarang sudah berkeluarga ( masih serumah dengan ortu )
Dan dia yg mengatur segala pengeluaran di rumah.
Baik pengeluaran rumah tangganya sendiri maupun keluarga besar.
Pertanyaan saya,
Apakah sudah waktunya anak seusia itu diajari??
Apakah cara yg seperti itu sudah cukup??
Atau masih perlu perlakuan yg lain dalam mendidik dalam mengelola uang??
Secara anak saya laki"..bayang-bayang uang jajannya habis ditengah jalan selalu menghantui ๐Ÿ˜…   
๐Ÿ‘‡

Wa'alaikumussalam bunda anita..
Salam kenal ๐Ÿ˜
Terimakasih pertanyaannya..
Sebenarnya usia smp udah bisa dikasih uang saku bulanan bunda..dengan catatan bila anaknya udah siap.
Nah, kita tau anak kita telah siap dengan pengamatan sehari hari kita trhadap anak kita.. Bagaimana dia sehari hari apakah cnderung boros atau sebaliknya..
Namun, bila kita ragu bisa dimulai bertahap, yaitu dengan 3 harian dulu atau per minggu baru klo udah mantap dilanjutkan ke bulanan.

Tp sebelumnya harus ada kesepakatan/pembicaraan awal  dulu antara anak dan ortu.. Jd jangan ditetapkan sepihak oleh orang tua supaya anak juga belajar mengambil keputusan dan brtanggung jawab trhadap pilihannya.
Maka itu perlu ada aqad di awal, yg berisi :
1. Jumlah uang ( diberikan uang senilai ..... rupiah )
2. Waktu ( setiap 3 hari atau 1 minggu sekali )
3. Alokasi / peruntukannya ( digunakan untuk ...... )
4. Konsekuensi / reward
( bila uang abis belum waktu atau bila uang masih ada )

Pada tahapan ini kita sebagai ortu harus mulai memberikan kepercyaan di awal kpda anak kita.
Bila satu dua kali dia gagal atau mnghabiskan uangnya sblum waktunya..gpp wajar..krna masih dlm tahap belajar.. Dngan sering latihan yg terevaluasi maka lama lama ia akan terlatih dan brtanggung jawab dngn pngelolaan  finansialnya.         

๐Ÿ™‹​ Kiran
Setiap hari anak saya  selalu saya tugaskan belanja sembako dan sayur ke warung, walaupun belum tahu konsep mata uang. tapi maksud saya minimal mengajarkannya tanggung jawab dan keberanian, juga mental bertransaksi.
Sejauh ini anaknya antusias.
Tapi saya agak tidak tahan dengan anggapan orang lain bahwa anak saya masih terlalu dini untuk disuruh belanja ke warung.
Dan Terlalu dini untuk menanamkan kalau ingin mainan, setengahnya harus dari uang "buruh/reward" dia hasil belanja ke warung.
Yang harus dikumpulkan masuk celengan.
A.Apa benar saya terlalu dini mengenalkan?
B.Apa efek jangka panjang jika benar terlalu dini?
C.Bagaimana mengajarkan konsep financial planner sesuai fitrah?
Tujuan saya adalah mempersiapkan anak laki2  mencapai masa mukallaf ketika usia 15 tahun.
Sudah punya penghasilan sendiri, meski tidak besar.
Krn pointnya ada di kemandirian.
Mohon bimbingannya ๐Ÿ™​                     
๐Ÿ‘‡
Salam kenal bunda kiran ๐Ÿ˜Š
Hmm..ada berbgai macam teori psikologi anak dan parenting di dunia ini..dan masing2 teori belum tentu bisa diterapkan pada anak kita, krna setiap kluarga punya goals sndiri slain itu kultur budaya beda, latar belakang beda, pola asuh n pola komunikasi jg karakter yg beda2.
Kadang cocok buat anak yg satu, dan tdk cocok buat anak yg lain..
Kadang cocok untk bbrpa anak tapi kadang jg ga cocok..
Nmun sbnarnya yg pling tahu bagaimana anak kita idealnya adalah ortunya sndiri..
Nah, kembali ke masalah td..apakah trlalu dini soal belanja ke warung ini ?
Kalau sya melihat trgantung anaknya juga bun..
Sejauh anaknya tdk merasa dipaksa, enjoy aja ngejalaninnya, dan aman ( warung dekat, msh dlm pengawasan..khawatir pnculik, dll ๐Ÿ‘€)  mnurut sya ga masalah bunda..
Tp memang tidak semua balita bisa diajarkan sprti ini..
Kita lihat lg karakternya dan kesiapannya..
Oiya..mumpung inget...
Soal belanja ke warung mengingatkan saya tntang :
Sering terjadi kita meminta anak untk buru2 memilih apa yg dia mau beli ketika belanja ke warung...
Bahkan trkadang kita yg lngsung memutuskan apa yg hrs dibeli..
Padahal saat itu sbnarnya bsa mnjadi moment buat kita untk mngajarkan dia mmbuat keputusan finansial : membeli sesuatu yg diinginkan yg dlm prkembangannya akan mnjadi ๐Ÿ‘‰ membeli sesuatu sesuai budget lalu mnjadi๐Ÿ‘‰ membeli sesuatu yg  dibutuhkan.
Kalau kita mndesak anak2 untk membeli maka proses belajarnya kurang brjalan maksimal bahkan bisa mmbuat anak mnjadi konsumtif / atau  terjebak pda karakater " teserah aja deh yg pnting beli"
Akhirnya anak akan fokus pda "perilaku belanja" bukan pda "sebab knpa belanja"
Selanjutnya soal beli mainan  dengan tabungan reward dr upah bantu belanja di wrung..
Sebenarnya mngkin ini agak trlalu dini bun..
Krna balita umumnya blum mngrti benar tntang hal itu..
Ketika balita kita membantu kita..pada umumnya mereka lakukan dengan tulus..krna memang ingin membantu bahkan ga disuruh pun sering menawarkan diri untk membantu..
Fitrahnya msh tulus hati..
Nanti pda prkembangannya ketika usia sekolah kemampuan kognitifnya semakin brkembang..maka mulai mngerti konsep "iming2" , " untung rugi" , " sebab akibat" dst..
Pda usia sekolah ini kita bisa mengajarkan mreka soal reward / upah ..
Karena itu pemasukan mreka di usia sekolah bukan hanya dr uang saku tapi juga dr pemasukan bisnis barang dan jasa (upah).
Jika terlalu dini dikenalkan soal ini khawatir anak akan  merasa tidak disayang dan mnjadi anak yg "perhitungan" krna pda usia ini ego nya msh tinggi..kebutuhan kasih sayangnya besar..dan dia blum mengerti maksud baik kita..
Tentang konsep financial planer sesuai fitrah adalah bagaimana kita menanamkan dan mngembangkan kecerdasan finansialnya sesuai tahapan usianya..
Jd bertahap sesuai kebutuhannya dan penguatan mindset sejak dini dan terus menerus..
Dan masyaAllah bunda telah memiliki goals yg bagus sekali untuk masa depan nanda ..
menyiapkan dia mnjadi mandiri di usia balighnya..
Semoga Allah selalu menuntun bunda dan nanda...aaamiiin...
Tambahan juga bu, mengenalkan finansial ttg keakhiratan seperti zakat infak dan shodaqah yang konkrit untuk balita seperti apa ya jika kurang bagus diiming2i harta lagi?
Sementara kalau diiming imingi pahala pun belum mengerti.
Sampa saat ini saya cuma sampai menjelaskan, supaya disayang Allah, supaya orang yang kita beri senang.
Apakah ada contoh konkritnya?
Apakah sudah tepat?
InsyaAllah sudah tepat bunda..
Jd pda masa balita sbnarnya lebih ke pembiasaan perilakunya bun..
Mereka blum bgitu faham tntang sebab/kenapa perilaku it hrs dlakukan..
Jd lngsung ke pembiasaan perilakunya..misalnya..bgitu dpat uang jajan..uang jajan dipisah..dimasukan ke celengan infak..atau klo ketemu celengan infak di tmpat makan atau mushola..mintalah dia yg memasukkan.. Dst..

๐Ÿ™‹​ Eka
Saya eka anak saya raka 6 tahun
Saya sudah menerapkan aturan kalo dia mau beli mainan harus berusaha ngumpulin uang dari uang jjan dia sendiri
Permasalahannya anak saya yang baru duduk d TK B itu udah punya inisiatif buat berbisnis kecil, contoh kecilnya dia kumpulin kartu2 hadiah dari suatu produk (kartu boboiboy) setelah banyak terkumpul maunya dia jual itu kartu ke teman2nya yang menginginkan kartu itu, tapi kalo temannya maunya sedikit dia kasih begitu saja tapi kalo ada temannya yang mau kartu itu banyak dia tawarin untuk dibeli bukan hanya kartu2 tapi mainan yang memang lagi ngetrend d kalangan teman2nya dia suka berkeinginan untuk jual beli
- apakah peraturan sya mempengaruhi cara berfikirnya supaya dia bisa mendapatkan uang sendiri?
-apakah hal itu positif atau negatif?
- bagaimana kita sebagai orangtua harus bersikap dan memberikan penjelasan kepada anak umur 6tahun?
Mohon penerangannya
Mohon maaf tulisannya acak2an
๐Ÿ‘‡
Salam kenal bunda eka.. ๐Ÿ˜Š
Peraturan yg kita terapkan pda anak2 baik scara lngsung ataupun tdk lngsung bsa mmpengaruhi perilaku anak dan prkembangan karakter anak selanjutnya trmasuk pola pikirnya..
Bisa jadi raka berbisnis krna itu tp boleh jd juga anaknya memang punya "jiwa dagang"..
Raka berusia 6 tahun , berarti sudah masuk usia tahap kedua..insyaAllah ia siap untk diperkenalkan hal ini..
Dan ketika "jiwa dagang" itu memang inisiatifnya..insyaAllah itu adalah hal yg positif..
Tinggal selanjutnya bgaimana ortu mendampingi, mengarahkan dan menfasilitasi hal itu dengan baik..
Misalnya dngan : penguatan mindset poin pertama (iman)  dan poin kedua ( uang / harta bukan tujuan, tp cuman sarana ) untuk memantapkan mindset poin ke tiga (kemandirian)..
Kemudian bisa juga untuk awal diajarkan memisahkan antara uang hasil bisnis (sesedikit apapun) dngan uang saku..
Aturan membeli mainan yg diinginkan (tdk trmasuk reward hadiah ) dengan ngumpulin uang jajan  bisa mnjadi latihan "financial goals" untuk anak usia tahap kedua (usia sekolah)
Latihan ini berguna untuk menanamkan motivasi menabung, latihan membuat keputusan finansial, latihan anak untuk mengenali kebutuhan dan keinginan, dan latihan bertanggung jawab.
Krna itu ada baiknya bila latihan ini dibikin "resmi"
Anak menulis di kertas komitmen dia mau beli apa, waktunya kapan dan dengan cara apa..dapat juga ditambahkan reward tambahan dr ortu bila ia brhasil mncapainya (bila dirasa perlu untk tambahan motivasi anak)
Lalu ia cap jempol / tangan
Dlm hal ini ortu bersikap sbagai juri, pengingat..

๐Ÿ™‹​ Putri
Perkenalkan nama saya Putri, Ibun dari Raees 3 tahun. Terinakasih atas slot pertanyaan yang diberikan.
Saya ingin memulai pemberian reward kepada anak dalam bentuk koin (satuan mata uang misal 5ribu), koin tersebut bisa ditebus untuk membeli mainan yang dia inginkan. Apakah strategi ini terlalu cepat saya kenalkan dan akan berimpact buruk karena anak jadi mengejar materi untuk setiap perbuatannya, atau justru poaitif karena mengenalkan manajemen keuangan dari kecil yaa bu?
๐Ÿ‘‡
Salam kenal bunda putri.. ๐Ÿ˜Š
Nanda Raees msh 3 tahun..brarti msh usia tahap pertama.. Mngkin ada baiknya hal ini diterapkan ketika usianya masuk tahap kedua nanti..
Krna sprti yg sy sampaikan sblumnya usia ini msh dlm tahap pnguatan mindset poin pertama dan kedua serta pengenalan pengelolaan finansial lewat teladan dan pembiasaan.
Lewat pembiasaan misalnya dngan memanfaatkan momen2 yg nanda raees hadapi sehari hari yg brhubungan dngan finansial..misalnya mengajari memasukan uang dlm celengan, menemani dan membiarkan ia memilih sendiri ketika ia ingin belanja ke warung, dll
Oiya satu lagi tntang warung dan belanja
Seringkali kita melihat anak2 yg merengek rengek atau sampai tantrum di warung,  minimarket atau swalayan krna ingin beli sesuatu ..
Nah..sebenarnya momen ini juga bisa mnjadi momen pembiasaan prkembangan kcerdasan finansial yg brdampak pda prkembangan kcerdasan yg lain (kcrdasan emosi, dll)
Ini agak berbeda dngan contoh diatas td ( pd jwaban prtanyaan bunda kiran)
Dan ini dapat diterapkan pda usia balita dan diatasnya khususnya ketika  kita berbelanja sekeluarga atau jalan2 ke pusat belanja
Ada bbrpa contoh latihan..
Misalnya :
Latihan 1 ketika kita belanja hanya beli yg dibutuhkan dirumah :
Sebaiknya sebelum berangkat anak diberi tahu kita mau kemana dan hendak apa..
Misalnya : " kaka, kita mau ke supermarket..mama mau beli gula dan lainnya..kaka mau ikut ?"
Biasanya dia akan menjawab " mau ikut"
Lalu kita buat komitmen/janji  " oke..  Tapi disana hanya beli gula dll aja ya..kita tidak beli yg lain "
Biasanya anak akan mengangguk setuju..
Tp sampai di supermarket lain lagi..
Pasti ada yg ia mau beli..
Krna di awal sudah brkomitmen tdk beli apapun selain yg direncanakan maka itu yg kita lakukan..
Kalau ia balita , kita bicara setinggi kepalanya sehingga mata kita bertatap dngan matanya " maaf nak..kita kesini bukan beli ini "
Awalnya ia akan terus merengek..
Tapi jika kita terus menolak (sambil bilang maaf dan alasannya) dia akan mengerti..
Tp kalau dia menangis, tanrum (biasanya usia balita) ..maka gendong aja, peluk..selesaikan belanja dan bawa pulang..
Selama proses itu kita diam aja..cukup peluk..biarkan ia meluapkan emosinya..
Bila sudah selesai menangis..
Lalu bilang " kaka sedih ya ? , maaf ya nak.. Mama ga bisa belikan itu..krna kita kesana bukan untuk beli itu"
Peluk lagi..
Biasanya dikesempatan selanjutnya dia akan mengerti bila kita menolak membeli yg dia inginkan dan tdk akan merengek lg..
Latihan 2 ketika kita belanja hal yg direncanakan
Sama seperti td, jd ada komitmen di awal..kita mau kemana dan hendak apa..
Tp ditambahkan latihan plus untuk anak, misalnya boleh membeli coklat atau 1 jenis mainan dll..
Intinya sama seperti di atas hanya pd latihan ini anak2 berlatih membuat keputusan finansial lebih luas lg
Oiya..
Untuk pemberian reward brupa brg atau materi untuk usia balita, bbrp teori parenting berbeda beda..
Namun, sya sendiri cnderung mnghindari pemberian reward brupa barang atau materi untuk usia balita..
Pertama krna pola pikirnya blum sampai kesana, kedua  krna sya ingin mengasah ketulusan hatinya sehingga ia mnjadi anak yg ringan tangan krna tulus..
Krna memang fitrahnya usia balita cnderung suka  membantu, cnderung rajin ... krna disisi lain usia ini adalah usia eksplorasi..
Bilapun reward, sebaiknya reward dlm bntuk pujian, peluk cium dan sejenisnya..
Hal2 yg lebih pda penghargaan hati..
Namun ide bunda putri td menarik sekali..bisa diterapkan ketika raees masuk usia tahap kedua (usia sekolah) sebagai salah satu cara latihan "financial goals"

๐Ÿ™‹​ Suci dari bandung ibu dari 3 balita.

Mengenai konsep jajan, saya punya teman yg tdk membiasakan jajan untuk anak2nya. Alasannya bagus, agar tdk jajan sembarangan dan sbg gantinya selalu sedia stok makanan di rumah.
Saya suka dgn konsep itu, tp saya kesulitan dalam penerapannya. Karena keterbatasan uang belanja saya g bisa sering nyetok makanan dirumah๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dan kultur di keluarga besar kami yg sudah lekat dgn jajan..
Naahh akhirnya saya ambil jalan tengah, menginzinkan anak2 jajan tapi dgn jatah uang jajan perhari dibatasi dan dgn makanan tertentu.
Alhamdulillah anak pertama dan kedua saya sepakat dan mau jalan dgn kesepakatan ini.
Bagaimana menurut ibu?
Terimakasih ๐Ÿ™​๐Ÿ˜Š
๐Ÿ‘‡
Salam kenal bunda suci...๐Ÿ˜Š
MasyaAllah..tentang konsep jajan teman bunda itu bagus sekali..terutama untuk usia balita..๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘
Namun seperti yg sya sampaikan diatas tidak semua pndekatan/teori/cntoh parenting bsa kita terapkan dlm kluarga kita..krna ada bnyak faktor jg yg mnjadi dasar dan yg mmpengaruhinya..
Bila dalam keluarga bunda mnerapkan konsep jajan yg bunda jalankan selama ini ( dengan komitmen jatah dan prjajian brg apa yg boleh dan tdk boleh) insyaallah tidak apa2 selama semuanya dpat dijalankan brsama dan sesuai komitmen..
Tp mngkin untuk waktunya..pda anak balita sebaiknya Tidak jajan setiap hari meskipun dengan jatah..
Krna  pda masa ini adalah masa pembiasaan..supaya dia berlatih menahan keinginan mskipun uang jajannya tetap diberikan setiap hari..
Jd selang seling misalnya ..
Hr ini uang untuk jajan..
Besok jatah jajan dimasukin celengan...
Dst..
๐Ÿ™‹​ Vivi
Terimakasih atas penjelasannya yang sangat gamblang bu.. sudah cukup jelas untuk usia dini langkah2 yang sebaiknya dilakukan untuk berlatih mengelola keuangan.
Pertanyaan saya,
Ketika sang orang tua mampu membelikan barang2 yang tergolong bagus (ada harga ada rupa) dan memang itu kebutuhan si balita. Apakah dia akan mengerti nilai barang2 yang dia punya ? Apakah dia akan terpikir "oh orang tuaku mampu kok" beliin ini itu"
Bagaimana sebaiknya orang tua bersikap dalam membeli kebutuhan si anak jika memang 'ada dananya' untuk mengajarkan anak kesederhaan dan bijaksana dalam membeli sesuatu?
 (misalnya memilih  membeli  yang kualitasnya bagus dan harganya agak diatas rata2 atau membeli dengan prinsip kesederhanaan?)
๐Ÿ‘‡
Salam kenal bunda vivi ๐Ÿ˜Š
Untuk anak balita belum mengerti tntang kualitas, bagus atau tidak, harga mahal atau murah..
Jd buat mreka barang mahal dan murah didepan mreka akan tampak sama aja bun..
Pasti dimainkan, dipretelin dll..
Untuk pehaman soal ini..pda balita belum perlu bun..krna memang blum sampai kesana pola pikirnya..
Insyaallah nanti bila sudah masuk tahap usia kedua ( usia  sekolah) mulai bisa difahamkan brtahap..

                    〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
 ๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…LEARNING MAMA COPYRIGHT 2017๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…
                   〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
๐Ÿ‘ฅFP : Learning Mama
๐Ÿ“ทInstagram : @learningmama.indonesia
๐ŸŒWeb : www.komunitaslearningmama.blogspot.com


semoga bermanfaat,,
keep learning,mama!! ๐Ÿ’ช​

  〰〰〰〰〰〰〰〰
 ๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…LEARNING MAMA COPYRIGHT 2017๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…
 〰〰〰〰〰〰〰〰

๐Ÿ‘ฅFP : Learning Mama
๐Ÿ“ทInstagram : @Learningmama.indonesia
๐ŸŒWeb : http://komunitaslearningmama.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

learning mama instagram